Selasa, 15 Juni 2010

Why So Serious?

Artikel ini merupakan satu dari rangkaian artikel dari saya, Lex dan Kei serta Cygnus yang tidak secara spesifik menyinggung mengenai permasalahan romansa. Artikel kali ini dan artikel-artikel selanjutnya akan berbicara secara general mengenai kepribadian, karakter, pola pikir, pandangan hidup dan dinamika sosial dan mungkin akan menyinggung beberapa hal mengenai romansa atau mungkin tidak sama sekali.

Mungkin beberapa dari Anda sebelum membaca artikel saya kali ini dan artikel-artikel berikutnya akan merasa heran dan aneh, tetapi saya yakin banyak dari Anda yang akan terkaget-kaget, terheran-heran dan mengangguk penuh arti setelah menyelesaikan rangkaian artikel dari saya Lex dan Kei serta Cygnus.

Salah satu fondasi dasar yang membuat Saya, Lex dan Kei memutuskan untuk mengadakan Hitman System adalah kesadaran kami akan rumitnya pola pikir yang selama ini membelenggu masyarakat pada umumnya dan Pria-pria pada khususnya. Oleh karena itu rangkaian artikel yang "berbeda" ini saya harapkan akan membantu Anda untuk melihat dunia dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dan dari sana Anda akan lebih siap untuk kami bawa untuk meng-‘Hack’ dinamika romansa yang penuh intrik dan paragdima yang menyesatkan.

Apakah Anda sudah siap sekarang?

Jika Anda sudah siap, artikel saya kali ini berjudul.

Eits, nanti dulu, saya ceritakan dulu latar belakang kata ini.

Di Total Immersion Bootcamp 2008, yang dihadiri oleh para alumni HSEW/HSMS. Setiap instruktur pada hari kedua menyampaikan mengenai Transformasi personal yan dialami. Salah satu kata yang tertera di slide presentasi saya adalah

WHY SO SERIOUS?

Line diatas adalah Judul artikel kali ini.

Line diatas saya curi mentah-mentah dari quote Joker dalam filmnya pahlawan bertopeng Batman �" The Dark Knight, yang akan keluar diakhir tahun ini.

Kenapa saya mengambil tag line Joker diatas? Karena salah satu Personal Tea (It should be personal motivation or personal drug, I use Tea since I’m a Tea Addict) saya adalah hal tersebut.

Why So serious? Dalam bahasa Indonesia yang baku dan bersahaja berarti Kenapa Sangat Serius? Atau dalam kamus gaul Indonesia adalah Kenapa Serius Banget Sech?

Saya akan memberikan Anda satu cerita yang saya alami sendiri belum lama ini.

Jalan yang selalu saya lewati dari rumah menuju kantor dan sebaliknya selalu melalui Jalan Tol Dalam Kota ruas, Ancol-Tomang dan sebaliknya.

Bagi Anda yang melalui jalur ini pasti tahu mengenai kemacetan luarbiasa yang terjadi dari akhir tahun lalu. Bagi yang belum tahu, Ruas tol Jembatan tiga yang notabene berada dalam lajur Ancol-Tomang (dan sebaliknya) akhir tahun lalu mengalami kebakaran hebat. Yang sebelumnya jalan tol tersebut mampu menampung 4 lajur kendaraan (1 lajur darurat) diubah menjadi 1 lajur sepanjang kurang lebih 200 M. Tadinya hal ini hanya menyebabkan kemacetan di pagi saja, karena arah baliknya Tomang-Ancol masih lancar (lajurnya hanya ditutup satu). Tetapi di awal April, tepat diatas Jembatan Tiga, lajur Ancol-Tomang dan sebaliknya ditutup 3/4nya. Dari 4 lajur penyempitan menjadi 1 lajur. Sementara dari Tomang-Ancol dari 6 lajur menjadi 1 lajur.

Dan hari pertama hal tersebut diaktifkan, Jakarta mengalami kemacetan yang luar biasa. Jalan tol ruas Tomang-Ancol stuck selama 3 jam!

Setelah mengetahui hal diatas saya memutuskan untuk tidak lagi melalui Jalan Tol Dalam Kota dan memilih jalur alternatif lainnya. Tetapi suatu hari di minggu-minggu lalu saya iseng masuk dalam tol tersebut karena saya pikir radio sudah jarang memberitahukan mengenai hal tersebut jadi saya duga tidak akan macet lagi. Dan ternyata dugaan saya salah.

Dari arah jalan layang kemacetan terjadi, dan diujung jalan saya bisa melihat lebih dari 6 lajur mobil sedang berebutan untuk masuk ke dalam 1 lajur tersebut.

"Oh shit" Itu kata pertama yang terlontar keluar dari mulut saya ketika melihat apa yang harus saya lewati nantinya. Mobil bergerak sangat pelan dan merayap, kontainer dan truk besar bergerak lebih pelan, berhati-hati. Klakson mobil berterbangan kesana kemari, suara gas mobil yang diinjak dalam terdengar keras. Saya membuka kaca mobil dan teringat kepada personal tea saya dan saya melakukan hal ini. Saya nyalakan rokok saya, saya tarik dan saya hembuskan keatas, melirik ke kemacetan didepan dan berkata "Why So Serious Man?" dan percaya atau tidak, saya tersenyum! (cobalah sekarang, tanyakan pada diri anda, Why So Serious?)

Dan lebih anehnya lagi, mobil di sebelah saya yang ternyata melihat saya juga tersenyum. Yeah mungkin dia menduga kalau saya orang stress yang senyum sendirian. But who care?

Pertanyaan Why So Serious, membantu saya memandang kemacetan didepan bukan sebagai sesuatu yang super serious dan membuat stress. Saya memandang kemacetan didepan saya sebagai tantangan yang seru, games mobil yang memerlukan skill yang canggih.

Saat saya akhirnya harus beradu dengan mobil lain berebutan mengambil lajur paling kiri (bayangkan karena dari Tomang berarti saya harus memotong sekitar 4-5 mobil untuk bisa sampai di lajur kiri). Yang saya lakukan bertolak belakang dengan yang dilakukan orang-orang. Saat mereka menginjak gas keras-keras dan berusaha untuk tidak disalip, saya pelan-pelan melajukan mobil saya. Saat orang-orang tidak mau menyalakan sen meminta lajur, saya nyalakan sen saya. Saya buka kaca mobil saya dan saya keluarkan tangan saya. Saya lempar senyuman saya pada mobil disebelah yang tidak mau memberi jalan. Mobil tersebut melaju kencang-kencang, gasnya kencang, dan klaksonnya super kencang. Saat dia melewati saya, saya bisa melihat orang yang didalam mobil tersebut memasang wajah SANGAT SERIUS SEPERTI INGIN MEMAKAN ORANG. Tangannya mengenggam erat setir mobil seperti ingin melepasnya. Setelah berhasil mendapatkan lajur paling kanan, saya tidak memacu mobil saya cepat-cepat, yang saya lakukan adalah menyetir dengan perlahan. Apabila ada mobil disebelah kiri saya ingin masuk, saya berikan. Dan akibatnya, lajur yang tadinya 6 menjadi 1, karena saya berubah menjadi 5 menjadi 1. Lajur ke 6 hilang total. Mobil di belakang saya membunyikan klakson, melemparkan lampu jauh terus menerus. Tetapi saya tidak perduli.

Hey Why So Serious?

Karena saya melihat kemacetan tersebut bukan merupakan ajang egois-egoisan, perjalanan saya menjadi lebih lancar. Perjalanan orang-orang juga menjadi lancar bukan?

Setelah lepas dari kemacetan tadi, saya melihat mobil yang tadi tidak memberikan saya jalan sedang parkir ditepi jalan dengan menyalakan lampu hazard. Yap, mobilnya MOGOK. Mungkin karena terlalu nafsu menekan gas.

Anyway, apa yang bisa Anda dapatkan dari cerita saya diatas?

Saya pernah membaca sebuah cerita mengenai bagaimana seseorang tidak dapat mengontrol 10% atas apa yang akan terjadi. Seperti lampu merah, macet, hujan, bencana dan lain-lain, Tetapi 90% sisanya berada ditangan seseorang tentang bagaimana dia akan memandang 10% tersebut. Apakah dia akan memandang hal tersebut sebagai musibah? Bencana? Kesialan? Kemarahan? Stress?

"Shit always happen!" Kata Lex di HSEW kemarin.

Saya pribadi, Lex dan Kei percaya bahwa setiap orang hidup dalam paragdimanya sendiri. Anda mungkin pernah mengalami kejadian diatas dan mengambil sikap seperti saya, tetapi sering kali sikap yang pertama (Marah-marah, stress) adalah pilihan yang sering kita ambil.

Kita tidak bisa mengontrol hal tersebut memang, tetapi kita bisa mengontrol tindakan apa yang bisa kita ambil saat mengalami hal tersebut. Dan tindakan yang kita ambil tersebut akan memberikan impact yang either baik atau buruk untuk kita saat itu.

Dari kecil sampai dewasa, kita selalu diajari untuk Serius saat menghadapi suatu permasalahan yang pelik. Tetapi sayangnya sering kali kita lupa sesuatu. Saat Anda menjadi terlalu serius dalam menghadapi segala sesuatu, tanpa Anda sadari Anda menjadi tegang, Anda menjadi pemarah, Anda menjadi stress dan tertekan. Dan saat itu, bagaimana caranya Anda bisa berpikir dengan baik? Saat segala sesuatu melintas di pikiran Anda.

Contohnya saja, di berita kriminal kita sering mendengar "Gara-gara 200 rupiah, nyawa melayang!." Bayangkan bertapa rusaknya paragdima lingkungan kita selama ini, bagaimana pemarahnya masyarakat kita atau bagaimana pemarahnya anda? Entah di jalanan, saat menunggu lift, saat sedang meeting, saat sedang ditolak oleh target anda. Anda menjadi pemarah, anda menyalahkan orang lain, anda menyalahkan diri anda sendiri dan anda menyalahkan dunia ini. Anda menjadi terlampau serius sampai lupa kalau permasalahannya sebenarnya hanya di cara anda memandang permasalahan tersebut.

Anda marah kepada target anda karena dia menolak anda, padahal kalau anda memandang dari sisi yang lain dan tidak menganggap serius penolakan atau bahkan tidak menganggap serius sesuatu yang namanya Romansa, anda mungkin bisa melihat kenapa anda ditolak. anda mungkin terlalu serius saat sedang melakukan pendekatan. Atau mungkin anda tidak menyadari kalau anda terlihat tidak confidence didepan target anda. Atau anda mungkin tidak sadar kalau anda selama ini memang buta soal romance.

Why So Serious, selalu saya lemparkan dan tanyakan kepada diri saya saat mengalami suatu permasalahan, baik itu di kantor, Hitman System, keluarga dan dimana saja.

Why So Serious bukan mengajarkan kalau Anda ketawa-ketawa saja atau santai-santai saja. Sebaliknya, mengajarkan kepada kita bagaimana Anda harus memandang kejadian-kejadian tersebut dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk membuat diri Anda jauh lebih baik lagi. Pertanyaan yang Anda ajukan ke diri Anda sendiri dan anda jawab sendiri akan membuat anda berkali-kali lipat lebih baik dibandingkan mengambil sikap tanpa anda pikirkan terlebih dahulu.

So guys, Sama seperti pertanyaan yang diajukan Joker dan personal tea saya, di saat Anda mengalami sesuatu nanti, tanyakan kalimat ini kepada diri anda sendiri.

Why So Serious?

Now, go out and smile to the world.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut